Organisasi mahasiswa dinilai tidak sekadar menjadi wadah kegiatan di luar perkuliahan. Lebih dari itu, organisasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, hingga ketahanan mental.
Dosen sekaligus Kepala Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam atau KPI UIN KHAS Jember, Hayyan Najikh, S.Sos., M.I.Kom., Rabu (2/9/2026), menyebut organisasi mahasiswa sebagai “laboratorium sosial” yang memberikan pengalaman berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.
Menurut Hayyan, organisasi mahasiswa merupakan ruang belajar kedua bagi mahasiswa setelah perkuliahan. Melalui organisasi seperti HMPS KPI, DEMA Fakultas, maupun Unit Kegiatan Mahasiswa, mahasiswa dapat belajar menghadapi dinamika kampus, bernegosiasi, mengambil keputusan, hingga mengaktualisasikan diri.
Pengalaman tersebut, kata Hayyan, menjadi pelengkap pembelajaran akademik. Sebab, sejumlah keterampilan seperti mengelola konflik, mengambil keputusan bersama, mengelola kegiatan, dan membangun relasi tidak selalu diperoleh secara langsung di ruang kelas.
Yang tidak kalah penting, aktivitas organisasi juga dapat melatih ketahanan mental mahasiswa dalam menghadapi berbagai persoalan.
Hayyan menilai kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi kehidupan setelah lulus. Sebab, tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan yang diperoleh dari buku atau perkuliahan.
Selain ketahanan mental, organisasi juga menjadi sarana untuk mengasah kemampuan komunikasi. Kegiatan seperti rapat kerja, musyawarah, presentasi proposal, menjadi pembawa acara, hingga menjadi juru bicara memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktikkan kemampuan berbicara dan berdiskusi.
Mahasiswa juga belajar mendengarkan pendapat orang lain serta mencari kesepakatan ketika terjadi perbedaan pandangan. Sementara itu, pengalaman bekerja dalam kepanitiaan dapat melatih kemampuan komunikasi, koordinasi, dan kerja sama antar-tim.
Namun, aktif berorganisasi juga memiliki tantangan, terutama dalam membagi waktu antara kegiatan organisasi dan kewajiban akademik.
Hayyan mengatakan, mahasiswa terkadang kesulitan menentukan prioritas ketika agenda organisasi bertepatan dengan tugas maupun kegiatan perkuliahan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat menyebabkan salah satu tanggung jawab terbengkalai.
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan menentukan prioritas dan mengatur jadwal.
Kuncinya bukan cuma pintar membagi waktu, tapi juga paham mana yang menjadi kewajiban utama. Kuliah itu amanah pokok, sedangkan organisasi adalah sarana mengasah diri.
Ia menyarankan mahasiswa melakukan evaluasi jadwal secara rutin, misalnya setiap akhir pekan. Dengan begitu, mahasiswa dapat memetakan agenda perkuliahan dan organisasi selama satu minggu ke depan serta mengantisipasi kemungkinan terjadinya benturan jadwal.
Di sisi lain, Hayyan berharap organisasi mahasiswa tidak hanya berorientasi pada kegiatan rutin maupun seremonial. Menurutnya, organisasi ideal harus memiliki tujuan yang jelas dan mampu memberikan dampak, baik bagi mahasiswa maupun masyarakat.
Program kerja organisasi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan bidang keilmuan masing-masing. Bagi mahasiswa KPI, misalnya, kegiatan dapat diarahkan pada pelatihan penulisan berita, dakwah melalui media digital, produksi konten, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Pada akhirnya, organisasi mahasiswa diharapkan mampu mencetak kader yang tidak hanya aktif dalam kegiatan kampus, tetapi juga berprestasi secara akademik dan memiliki akhlak yang baik.
Dengan pengelolaan yang tepat, organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang belajar yang memperkaya pengalaman mahasiswa di luar kelas. Namun, keterlibatan dalam organisasi tetap harus berjalan seimbang dengan tanggung jawab akademik, sehingga keduanya dapat saling melengkapi dan mendukung perkembangan mahasiswa.(*)
Copyright © 2024 K Radio Jember 102,9 FM Developed by Sevenlight.ID.