DOSEN UIN KHAS JEMBER: AI ALAT BANTU, BUKAN PENGGANTI PROSES BERPIKIR MAHASISWA

DOSEN UIN KHAS JEMBER: AI ALAT BANTU, BUKAN PENGGANTI PROSES BERPIKIR MAHASISWA

DOSEN UIN KHAS JEMBER: AI ALAT BANTU, BUKAN PENGGANTI PROSES BERPIKIR MAHASISWA

Penggunaan Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa saat ini kian marak khususnya untuk membantu aktivitas akademik. Fenomena ini memicu perhatian akademisi terkait batas antara pemanfaatan AI sebagai alat bantu belajar atau justru memicu ketergantungan yang mengikis kemampuan berpikir kritis.

Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, Siti Humairoh, S.Sos., M.A., Kepada K Radio (Senin, 24/8/2026), mengatakan bahwa kehadiran AI di era saat ini tidak bisa dimungkiri. Namun, mahasiswa harus menyadari bahwa AI hanyalah sebuah alat (tools), bukan pengganti proses berpikir. 

Menurutnya, persoalannya bukan semata-mata menggunakan AI atau tidak, akan tetapi dalam hal integritas prosesnya. Mahasiswa harus tetap menjadi pihak yang punya proses berpikir yang kritis, bertanggung jawab, dan jujur.

Ia menjelaskan bahwa batasan penggunaan AI dalam konteks akademik terletak pada etika dan penggunaannya. Pemanfaatan AI masih tergolong tepat jika digunakan untuk menjelaskan konsep, memberikan contoh, mencari alternatif ide, serta menemukan kelemahan argumentasi melalui proses feedback.

Sebaliknya, penyimpangan dan kejahatan akademik terjadi ketika mahasiswa menyalin secara utuh (copy-paste) tugas, makalah, hingga skripsi tanpa memahami isinya, lalu mengklaimnya sebagai karya pribadi secara tidak jujur kepada dosen.

Selain masalah integritas, Siti Humairoh mengingatkan bahwa jawaban maupun referensi yang diberikan AI tidak sepenuhnya benar dan rentan tidak sesuai dengan isi buku aslinya. Oleh karena itu, verifikasi sumber menjadi hal yang mutlak dilakukan oleh mahasiswa.

Ia menerangkan, semua yang diberikan oleh AI itu tidak sepenuhnya benar. Harus ada proses verifikasi terlebih dahulu. Mahasiswa juga harus membaca dan memahami kembali isinya, jangan sampai ketika ditanya oleh dosen mengenai argumentasinya tidak mampu menjelaskan.

Untuk menghadapi perkembangan teknologi, ia menyarankan mahasiswa agar melatih kemampuan analisis, komunikasi, memarafrase tulisan, problem solving, serta menjaga budaya membaca dan berdiskusi yang melahirkan karya ilmiah.

Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak takut maupun bergantung pada AI, melainkan memadukan kecakapan digital dan intelektual dengan nilai-nilai akademik, moral, dan keislaman.

Ia menekankan bahwa, kecanggihan teknologi saat ini tidak akan banyak berarti jika tidak diimbangi dengan integritas penggunanya. Jadilah mahasiswa yang mampu dan cakap menggunakan teknologi sesuai dengan perkembangannya.(*)

Copyright © 2024 K Radio Jember 102,9 FM Developed by Sevenlight.ID.

avatar
Kradio