Pasca rentetan bencana alam yang melanda Kabupaten Jember sejak Januari hingga akhir Februari, sejumlah infrastruktur dilaporkan mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan segera.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember menginventarisir sedikitnya 27 titik kerusakan yang tersebar di tujuh kecamatan. Kerusakan didominasi dinding penahan air yang longsor maupun retak akibat tingginya curah hujan.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jember, Anang Dwi Resdianto mengatakan, salah satu titik yang cukup memprihatinkan berada di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa. Dinding penahan air setinggi 40 meter yang menjadi penopang akses jalan utama warga, kini dalam kondisi retak dan rawan longsor. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan.
Kerusakan infrastruktur juga terjadi di Dusun Sodong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti. Sebuah jembatan bambu yang terakhir dibangun pada tahun 2019, hingga kini masih menjadi satu-satunya akses bagi sekitar 30 rumah warga. Kondisinya yang mulai lapuk membuat warga berharap adanya pembangunan jembatan permanen.
Tak hanya itu, bronjong kawat sebagai dinding penahan tanah di Dusun Glundengan, Desa Suci, juga dalam kondisi mengkhawatirkan. Bangunan darurat yang dibuat pada tahun 2025 tersebut berdiri dengan ketinggian belasan meter. Tingginya intensitas hujan membuat bronjong rawan longsor dan berpotensi menyeret badan jalan di sekitarnya.
Untuk langkah penanganan, BPBD Jember telah menyiapkan proposal bantuan yang akan diajukan ke kementerian terkait maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Anang berharap, kondisi infrastruktur yang terdampak bencana ini dapat segera menjadi perhatian pemerintah, agar aktivitas dan keselamatan warga tidak terus terancam.(thn)
Copyright © 2024 K Radio Jember 102,9 FM Developed by Sevenlight.ID.